Syarat La Ilaha Illallah

1. Ilmu: yaitu mengetahui makna yang dikehendaki darinya, baik penafian maupun penetapan. Ilmu di sini adalah pengetahuan yang menafikan kebodohan tentang hal itu.

Allah Ta'ala berfirman, "Maka ketahuilah bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi kecuali Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang Mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan, Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat tinggal kamu." (Muhammad [47]: 19)

Dari Utsman radhiyallahu 'anhu dia berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Barangsiapa mati dalam keadaan mengetahui (dengan yakin) bahwa tidak ada yang haq selain Allah maka dia masuk Surga." (HR. Muslim)

2. Yakin, yakni keyakinan yang menafikan keraguan.

Allah Ta'ala berfirman, "Sesungguhnya kaum mukmin itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwanya di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar." (Al-Hujurat [49]: 15)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang haq selain Allah dan bahwa aku adalah utusan Allah. Tidaklah seorang hamba bertemu dengan Allah dengan mengucapkan kedua kalimat tersebut tanpa ada keraguan melainkan dia akan masuk Surga." (HR. Muslim) 

3. Qabul (menerima): yaitu menerima apa yang dituntut oleh kalimat ini dengan hati dan lisannya.

Allah Ta'ala berfirman, "Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka la Ilaha Illallah (tiada ilah yang berhak disembah melainkan Allah) mereka pun menyombongkan diri. Bahkan mereka berkata, "Apakah kami harus meninggalkan sesembahan-sesembahan kami karena seorang penyair gila?" (Ash-Shaffat [37]: 35-36)

Allah Ta'ala menjadikan sebab diadzabnya mereka karena kesombongan mereka terhadap orang yang membawa kalimat tersebut dan tidak menetapkan apa yang ia tetapkan.

4. Inqiyad (tunduk), yaitu ketundukan terhadap apa yang ditunjukkan oleh kalimat tersebut dan tidak meninggalkannya.

Allah Ta'ala berfirman, 

"Dan, kembalilah kamu kepada Rabb-mu serta berserah dirilah kepada-Nya." (Az-Zumar [39]: 54)

"Maka demi Rabb-mu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu sebagai hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, serta mereka menerima dengan sepenuhnya." (An-Nisa' [4]: 65)

Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Tidak beriman salah seorang dari kalian hingga hawa nafsunya yang mengikuti ajaran yang aku bawa." (An-Nawawi berkata dalam Arbain-nya, "Hadits ini shahih, kami meriwayatkannya dalam kitab Al-Hujjah dengan sanad shahih.")

5. Shidq (jujur), yaitu yang menafikan dusta. Artinya mengucapkannya dengan penuh kejujuran dari dalam hatinya dan hatinya pun menyetujui lisannya.

Allah mengabarkan tentang orang-orang munafik dengan firman-Nya,

"Di antara manusia ada yang mengatakan, "Kami beriman kepada Allah dan Hari Kemudian", padahal mereka itu sebenarnya bukan orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri tanpa mereka sadari." (Al-Baqarah [2]: 8-9)

Dari Mu'adz bin Jabal radhiyallahu 'anhu dari Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda, "Tidaklah seseorang bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak disembah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, dengan penuh kejujuran dari hatinya melainkan Allah akan mengharamkan baginya Neraka." (HR. Bukhari)

6. Ikhlas, yaitu membersihkan amal dengan niat yang baik dari kotoran kesyirikan.

Allah Ta'ala berfirman, "Ingatlah hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik)." (Az-Zumar [39]: 3)

Dalam kitab Ash-Shahih dari Itban bin Malik radhiyallahu 'anhu dari Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam beliau bersabda, "Sesungguhnya Allah mengharamkan dari (memasuki) Neraka orang yang mengucapkan 'la Ilaha Illallah' (tidak ada ilah yang haq untuk disembah selain Allah)' demi mencari ridha Allah." (HR. Bukhari dan Muslim)

7. Mahabah (kecintaan), yaitu kecintaan terhadap kalimat tersebut, kecintaan terhadap hal-hal yang ia tuntut dan ia tunjukkan, kencintaan terhadap penganutnya yang senantiasa mengamalkan dan berkomitmen terhadap syarat-syaratnya, serta membenci segala pembatalnya.

Allah Ta'ala berfirman, "Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah." (Al-Baqarah [2]: 165)

Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, dia berkata Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Tidak beriman salah seorang dari kalian sampai aku lebih dia cintai daripada ayahnya, anaknya, dan seluruh manusia." (HR. Bukhari)


Sumber:

Asy-Syaikh Khalil Lagi As-Sihli, Al-Fawa'id Al-Jaliyyah fi Tauhid Rabb Al-Bariyyah

Komentar