Kebodohan Terhadap Hakikat Syirik dan Akibat-akibatnya


Dari Abu Waqid Al-Laitsi radhiyallahu 'anhu, dia berkata, 

"Kami keluar bersama Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam menuju Hunain saat kami baru saja meninggalkan kekafiran. Orang-orang musyrik memiliki pohon bidara dimana mereka ber-i'tikaf di sekitarnya dan mereka juga menggantungkan senjatanya yang disebut dengan dzatu anwath. Kami lantas melintasi sebuah pohon bidara lainnya, lalu kami berkata, "Wahai Rasulullah, buatkan untuk kami dzatu anwath juga sebagaimana dzatu anwath miliki mereka ...." Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Allah Maha besar, itulah tradisi. Demi Dzat Yang jiwaku ada di tangan-Nya, kalian telah berkata sebagaimana Bani Israil berkata kepada Musa 'alaihis sallam, "Buatkan bagi kami berhala sebagaimana berhala-berhala kepunyaan mereka." Musa menjawab, " Kamu ini kaum yang tidak mengetahui (sifat-sifat Rabb)." (Al-A'raf: 138) Kalian akan melakukan perilaku orang-orang sebelum kalian." (HR. At-Tirmidzi, 2181).

Maka sekalipun seseorang itu alim, terkadang masih tersembunyi baginya sebagian kecil dari unsur kesyirikan. Oleh karenanya, diwajibkan baginya untuk mempelajari dan mengenali agar dirinya tidak terjerumus ke dalam kesyirikan, sementara dia tidak menyadarinya.

Jika seseorang berkata, "Aku tahu bentuk-bentuk kesyirikan." Padahal sebenarnya dia tidak mengetahui, maka hal ini merupakan perkara yang paling berbahaya bagi hamba tersebut. Karena, orang seperti ini termasuk jahl murakkab (kebodohan berganda). 

Jahl murakkab lebih buruk daripada jahl basith (kebodohan yang biasa), karena orang yang jahil basith kemungkinan masih mau belajar, lalu mengambil manfaat dengan ilmunya. Sedangkan orang yang jahil murakkab, dia mengira bahwa dirinya adalah orang yang alim, padahal sejatinya jahil. Sehingga dia akan terus dalam keadaan seperti itu dengan melakukan amal yang menyelisihi syariat.


(Asy-Syaikh Khalil Lafi As-Sihli, Al-Fawa'id Al-Jahiliyyah fi Tauhid Rabb Al-Bariyyah)

Komentar