Status Musyrik

Setiap orang yang menyembah selain Allah, maka statusnya musyrik bagaimana pun keadaan yang disembah.

Hal ini karena Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam muncul di tengah manusia yang bermacam-macam dalam peribadahannya. Di antara mereka ada yang menyembah malaikat, ada pula para nabi, dan orang-orang shalih. 

Ada juga yang menyembah batu dan pepohonan, dan ada pula yang menyembah matahari, dan bulan. Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam memerangi mereka semuanya dan tidak membeda-bedakan di antara mereka.

Allah Ta'ala berfirman, "Dan, perangilah mereka, supaya tidak ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah." (Al-Anfal [8]: 39)

Adapun dalil yang berkenan dengan (larangan menyembah) matahari dan bulan adalah firman Allah Ta'ala, "Dan, di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari, dan bulan. Janganlah kalian menyembah matahari maupun bulan, tetapi sembahlah Allah yang menciptakannya, jika kalian memang hanya menyembah-Nya." (Fushshilat [41]: 37)

Dalil yang berkenan dengan larangan menyembah malaikat adalah firman Allah Ta'ala, "Tidak (sepatutnya) pula dia menyuruh kamu menjadikan para malaikat dan para nabi sebagai tuhan. Apakah (patut) dia menyuruh kamu (berbuat) kekufuran setelah kamu menjadi muslim?"

(Āli ‘Imrān [3]:80)

Dalil tentang larangan menyembah para nabi adalah firman Allah Ta'ala, "(Ingatlah) ketika Allah berfirman, “Wahai Isa putra Maryam, engkaukah yang mengatakan kepada orang-orang, ‘Jadikanlah aku dan ibuku sebagai dua tuhan selain Allah?’” Dia (Isa) menjawab, “Mahasuci Engkau, tidak patut bagiku mengatakan apa pun yang bukan hakku. Jika aku pernah mengatakannya tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa pun yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa pun yang ada pada diri-Mu. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mengetahui segala yang gaib.”

(Al-Mā'idah [5]:116)

Dalil tentang larangan menyembah orang-orang shalih adalah firman Allah Ta'ala, "Orang-orang yang mereka seru itu, mereka (sendiri) mencari jalan kepada Tuhan431) (masing-masing berharap) siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah). Mereka juga mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya. Sesungguhnya, azab Tuhanmu itu adalah yang (harus) ditakuti."

(Al-Isrā' [17]:57)

Dalil tentang larangan menyembah batu dan pepohonan adalah firman Allah Ta'ala, "Apakah patut kamu (orang-orang musyrik) menganggap (dua berhala) al-Lata dan al-‘Uzza, serta Manata (berhala) ketiga yang lain (sebagai anak-anak perempuan Allah yang kamu sembah)?"(An-Najm [53]:19-20)

Juga hadits Abu Waqid Al-Laitsi radhiyallahu 'anhu, dia berkata,

"Kami keluar bersama Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam menuju Hunain saat kami baru saja meninggalkan kekafiran. Orang-oran musyrik memiliki pohon bidara dimana mereka beri'tikaf di sekitarnya yang disebut dzatu anwath. Kami lantas melintasi sebuah pohon bidara lainya, lalu kami berkata, "Wahai Rasulullah, buatkan untuk kami dzatu anwath juga sebagaimana dzatu anwath milik mereka 

...." (HR. Tirmidzi)


(Asy-Syaikh Khalil Lafi As-Sihli, Al-Fawa'id Al-Jahiliyyah fi Tauhid Rabb Al-Bariyyah)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berlebih-lebihan dalam Menyikapi Orang-orang Shalih

Syarat La Ilaha Illallah

Menghindari celaan