Postingan

Status Musyrik

Setiap orang yang menyembah selain Allah, maka statusnya musyrik bagaimana pun keadaan yang disembah. Hal ini karena Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam muncul di tengah manusia yang bermacam-macam dalam peribadahannya. Di antara mereka ada yang menyembah malaikat, ada pula para nabi, dan orang-orang shalih.  Ada juga yang menyembah batu dan pepohonan, dan ada pula yang menyembah matahari, dan bulan. Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam memerangi mereka semuanya dan tidak membeda-bedakan di antara mereka. Allah Ta'ala berfirman, "Dan, perangilah mereka, supaya tidak ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah." (Al-Anfal [8]: 39) Adapun dalil yang berkenan dengan (larangan menyembah) matahari dan bulan adalah firman Allah Ta'ala, "Dan, di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari, dan bulan. Janganlah kalian menyembah matahari maupun bulan, tetapi sembahlah Allah yang menciptakannya, jika kalian memang hanya menyembah-Nya....

Keadaan Orang yang Menyembah Selain Allah

Orang yang menyembah selain Allah dan mengira bahwa dia tidak menyembah mereka maka statusnya tidak akan terlepas dari tiga keadaan: Pertama, dia bodoh terhadap hakikat ibadah. Dalam keadaan seperti ini, hendaknya dijelaskan kepadanya hakikat ibadah. Pada intinya, orang yang melakukan sebagian ibadah kepada selain Allah berarti telah berbuat syirik kepada Allah. Kedua, dia menafsirkan ibadah dengan tafsiran yang salah. Dalam kondisi seperti ini hendaknya dijelaskan kepadanya makna ibadah yang benar. Pada intinya, dia tidak boleh melakukan ibadah kepada selain Allah. Ketiga, dia mengetahui hakikat ibadah dan juga mengetahui bahwa melakukan ibadahnya kepada selain Allah merupakan bentuk kesyirikan, tetapi dia terus nekat melakukannya. Orang seperti ini termasuk pendurhaka dan sombong, tidak akan bermanfaat baginya ayat-ayat maupun peringatan. (Asy-Syaikh Khalil Lafi As-Sihli, Al-Fawa'id Al-Jahiliyyah fi Tauhid Rabb Al-Bariyyah)

Tanda-Tanda Diterimanya Ibadah

Di antara tanda-tanda diterimanya ibadah adalah: 1. Mendapatkan petunjuk untuk memperoleh ilmu yang bermanfaat dan amal shaleh Allah Ta'ala berfirman, "Dan, orang-orang yang mau menerima petunjuk, Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan balasannya ketakwaannya." (Muhammad [147]: 17) Allah menyebutkan bahwa bagi orang-orang yang mau menerima petunjuk akan mendapatkan dua balasan, ilmu yang bermanfaat dan amal shalih. 2. Kemudahan dalam urusan Allah Ta'ala berfirman, "Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa. Dan, membenarkan adanya pahala yang terbaik (Surga)." (Al-Lail [92]: 5-6) Yakni, Kami mudahkan urusannya dan Kami jadikan mudah baginya untuk melakukan setiap kebaikan, dan mudah pula baginya meninggalkan setiap kejelekan. Karena, dia telah mendatangkan sebab-sebab kemudahan, sehingga Allah pun memudahkan baginya urusannya. 3. Adanya kelapangan di dalam dada dan merasakan kenikmatan setelah melakukan ibadah Allah Ta...

Cara Setan Merusak Ibadah

Setan memiliki lima cara untuk merusak ibadahmu, yakni: 1. Setan dengan sekuat tenaga menggoda engkau agar amalmu untuk selain Allah. Cara mengatasi hal ini adalah dengan mengikhlaskan amal untuk Allah. 2. Setan dengan sekuat tenaga mengodamu agar engkau berbuat bid'ah. Cara mengatasinya adalah dengan meneladani Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam serta mengenali petunjuk beliau, lalu mengamalkannya. 3. Setan dengan sekuat tenaga menggodamu agar engkau lalai. Cara mengatasinya adalah dengan menghadirkan hati dan merasakan makna-makna penghambaan dalam ibadah. 4. Setan dengan sekuat tenaga mengodamu agar engkau berlaku sum'ah dengan ibadahmu. Cara mengatasinya adalah dengan menjadikan ibadahmu sebagai rahasia antara dirimu dengan Allah. 5. Setan dengan sekuat tenaga menggodamu agar engkau merasa ujub dengan ibadahmu. Cara mengatasinya adalah hendaknya engkau mengetahui bahwa perbuatanmu dalam melakukan ibadah itu karena taufik dari Allah, dan hendaknya engkau senantiasa meliha...

Syarat Ibadah

Syarat ibadah ada dua, yaitu ikhlas dan mutaba'ah (meneladani Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam. Allah Ta'ala berfirman, "Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kalian, siapakah di antara kalian yang lebih baik amalannya. Dan, Dia Mahaperkasa lagi Maha Pengampun."  Fudhail bin Iyad rahimahullah berkata, "Yaitu yang paling ikhlas dan paling shawab (benar)."  Orang-orang bertanya, "Wahai Abu Ali, apa yang dimaksud dengan yang paling ikhlas dan shawab?  Dia menjawab, "Amalan jika hanya ikhlas saja tetapi tidak shawab, maka ia tidak akan diterima. Lalu jika amalan hanya shawab saja tetapi tidak ikhlas, juga tidak diterima hingga amalan tersebut ikhlas dan shawab. Ikhlas adalah apa yang dilakukan untuk Allah, sedangkan shawab adalah berada di atas sunnah". (I'lam Al-Muwaqqi'in) Sumber: Asy-Syaikh Khalil Lafi As-Sihli, Al-Fawa'id Al-Jahiliyyah fi Tauhid Rabb Al-Bariyyah

Rukun Ibadah

Ibadah memiliki tiga rukun, yakni hubb (kecintaan), raja' (pengharapan), dan khauf (rasa takut). Sebagian salaf berkata, "Ketahuilah bahwa penggerak hati menuju ke Allah 'azza wa jalla itu ada tiga, yakni muhabbah (cinta), khauf (takut), dan raja' (harap). Yang paling kuat di antara ketiganya adalah mahabbah.  Cinta itulah tujuan yang sebenarnya, karena ia diharapkan terus ada di dunia dan akhirat. Berbeda dengan takut, karena kelak, takut akan hilang di akhirat. Rasa takut yang dikehendaki adalah rasa takut yang mampu menahan dan mencegah agar hamba tidak keluar dari jalan kebenaran. Rasa cinta akan menjaga seorang hamba dalam perjalanannya menuju Dzat yang dicintainya. Perjalanan menuju Dzat yang dia cintai akan tergantung pada lemah dan kuatnya rasa cinta. Rasa takutlah yang mencegahnya melenceng dari jalan yang seharusnya, dan rasa harap menuntunnya. Inilah kaida penting yang harus diperhatikan oleh setiap hamba, karena peribadahan tidak akan berhasil tanpanya. Set...

Hukum Ibadah

Ibadah merupakan kewajiban atas setiap mukallaf hingga hilangnya beban taklif darinya karena adanya salah satu penghalang. Allah Ta'ala berfirman, "Dan, sembahlah Rabb-mu sampai kematian mendatangimu." (Al-Hijr [15]: 99) Sebagian ulama berkata, "Seorang hamba tidak akan terlepas dari peribadatan selama ia masih di Darut Taklif (kehidupan Dunia).  Bahkan dia juga tetap harus melakukan peribadatan lainnya di alam Barzakh, yakni ketika ditanya oleh dua malaikat, "Siapakah yang dia sembah? Apa pendapatmu tentang Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam?" Saat keduanya meminta jawaban darinya. Dia juga harus melakukan peribadahan lainnya pada Hari Kiamat, yaitu ketika Allah menyeru kepada seluruh makhluk agar bersujud, sedangkan orang kafir dan orang-orang munafik tidak mampu bersujud. Kemudian saat mereka memasuki Daruts Tsawab wal-Iqab (negeri pembalasan pahala dan siksa), barulah terhenti beban taklif di sana. Peribadahannya orang-orang yang diberi pahala ...